Latihan Militer Trilatera Filipina-AS-Jepang di Laut China Selatan Picu Kecaman Keras dari Beijing
News Buroko– Latihan militer bersama antara Filipina, Amerika Serikat, dan Jepang di perairan Laut China Selatan yang disengketakan telah memicu reaksi keras dari pemerintah China. Beijing mengecam keras kegiatan trilateral tersebut, menyatakannya sebagai provokasi yang mengancam stabilitas kawasan.

Baca Juga : Komitmen Tinggi Jajaran Keamanan Wujudkan Tomohon yang Kondusif dan Aman
Apa yang Terjadi dalam Latihan Tiga Negara?
Menurut pernyataan resmi dari Angkatan Bersenjata Filipina, latihan yang diberi nama “Kegiatan Kerja Sama Maritim Multilateral ke-11” ini digelar pada Jumat dan Sabtu. Latihan ini melibatkan angkatan laut dari Komando Indo-Pasifik AS dan Pasukan Bela Diri Maritim Jepang.
Dalam sebuah unggahan di platform sosial media X, pemerintah Filipina menegaskan bahwa tujuan latihan ini adalah untuk meningkatkan interoperabilitas dan kemampuan bersama dalam menanggapi berbagai skenario maritim. Mereka menyatakan bahwa kegiatan ini “menegaskan kembali komitmen teguh Filipina untuk menjaga kepentingan maritimnya dan menegakkan perdamaian dan keamanan di kawasan.”
Reaksi Keras China: “Provokasi dan Kolusi”
Tanggapan dari Beijing datang dengan nada yang sangat berbeda dan tegas. Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) langsung mengutuk latihan tersebut. Jurubicara komando, Tian Junli, dalam pernyataannya yang dilaporkan oleh Xinhua News Agency, menyebut Filipina telah “berkolusi dengan negara-negara di luar kawasan.”
China menuduh latihan ini sebagai:
-
Sebuah bentuk “patroli bersama” yang ilegal.
-
Upaya untuk menyebarkan “klaim ilegal” atas kedaulatan di Laut China Selatan.
-
Tindakan yang secara sengaja “merusak perdamaian dan stabilitas” di wilayah tersebut.
“Kami dengan sungguh-sungguh memperingatkan pihak Filipina untuk segera berhenti memprovokasi insiden dan terlibat dalam tindakan yang meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan,” tegas Tian. Ia juga menambahkan pesan peringatan bahwa “segala upaya untuk mendapatkan bantuan eksternal akan sia-sia,” menunjuk langsung pada keterlibatan AS dan Jepang.
Eskalasi dan Ketegangan yang Meningkat
Sebagai bentuk respons langsung, Komando Teater Selatan PLA mengumumkan bahwa mereka telah melakukan patroli tempur di Laut China Selatan pada hari yang sama dengan latihan trilateral tersebut. Tian Junli menekankan bahwa pasukan China berada dalam “siaga tinggi” dan siap untuk secara tegas menjaga “kedaulatan teritorial dan keamanan nasional” China.
Pernyataan tersebut ditutup dengan peringatan yang tidak ambigu: “Segala upaya untuk menimbulkan masalah atau mengganggu ketertiban di Laut China Selatan pasti akan gagal.”
Konteks Geopolitik yang Lebih Luas
Insiden ini bukanlah yang pertama kali terjadi dan mencerminkan ketegangan yang terus berlanjut di Laut China Selatan, sebuah jalur pelayaran vital yang diklaim oleh beberapa negara, termasuk China, Filipina, Vietnam, dan Malaysia. Klaim China, yang berdasarkan “Garis Sembilan-Titik” yang luas, telah ditolak oleh putusan pengadilan internasional pada 2016.
Latihan militer Filipina dengan sekutu tradisionalnya, AS, dan dengan Jepang—sebuah negara yang juga memiliki sengketa maritim dengan China—dilihat oleh Beijing sebagai upaya untuk membentuk blok yang membendung pengaruhnya. Sebaliknya, Manila dan sekutunya berargumen bahwa kegiatan ini adalah untuk menjamin kebebasan navigasi dan menegakkan hukum internasional, terutama di tengah meningkatnya aktivitas militer dan pembangunan pulau oleh China di kawasan tersebut.
Insiden terbaru ini semakin menyoroti betapa rapuhnya situasi di kawasan dan bagaimana latihan rutin militer dapat dengan cepat berubah menjadi ajang perang kata-kata dan eskalasi militer, memperdalam ketegangan antara kekuatan global dan regional.







