Tragedi Mengerikan di Bowone, Sangihe: Lubang Maut Peti Telan Dua Nyawa, Rekan Kerja Ungkap Detik-Detik Mencekam
News Buroko- Duka yang dalam menyelimuti Kampung Bowone, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Bencana longsor di lokasi Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) merenggut nyawa dua penambang, meninggalkan duka dan cerita pilu tentang kerasnya kehidupan para penambang liar.

Baca Juga : Lestarikan Kearifan Lokal, Bupati Iskandar Dorong Mandi Safar Tomini Diusulkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda
Peristiwa tragis yang terjadi pada Selasa (tanggal disesuaikan) sekitar pukul 11.30 WITA itu, menggambarkan betapa rapuhnya nyawa di antara tebing-tebing berbahaya. Kronologi mencekamnya berhasil diungkap dari kesaksian para rekan kerja yang menyaksikan langsung dan nyaris menjadi korban.
Awal Mula Bekerja di Bawah Ancaman
Berdasarkan keterangan para saksi, kelima pekerja, termasuk kedua korban, telah memulai pekerjaan berisiko mereka sejak pukul 09.00 WITA. Lokasi tambang emas ilegal tersebut berada di atas tanah milik keluarga Tatali, dengan penanggung jawab bernama Faizal Tatali. Mereka membagi tugas di sekitar lubang galian sedalam dua meter—sebuah lubang yang ternyata menjadi kuburan bagi dua rekan mereka.
Kesaksian Jun Vendri Diamare: Kabar Buruk dari Tergesa
Jun Vendri Diamare, atau yang akrab disapa Nun (38), warga Kampung Lesabe, adalah saksi pertama yang mengungkapkan detik-detik menjelang tragedi. Saat itu, sekitar pukul 11.30 WITA, Jun memutuskan untuk meninggalkan lubang tambang. Dua rekannya, Jatri Lomboh dan Viktor Luis Pontoh, masih bertahan di dalam, terus mengais harapan dari dalam bumi.
Jun berjalan menuju area pemecahan batu yang berjarak sekitar 60 meter. Namun, langkahnya terhenti oleh kedatangan rekan satu grupnya, Viali Aer, yang datang dengan wajah pucat dan napas terengah. Viali membawa kabar buruk yang membuat darah semua orang menjadi beku: lubang tempat Jatri dan Viktor bekerja telah tertimbun longsoran tanah dari tebing di atasnya. Suasana pun berubah menjadi chaos.
Kesaksian Viali Aer: Menyaksikan Langsung Tebing Runtuh
Viali Aer (32), warga Tahuna, adalah orang yang paling dekat dengan lokasi kejadian. Ia membenarkan teriakan histerisnya yang memecah kesunyian hutan. Saat tragedi terjadi, Viali sedang duduk beristirahat sekitar lima meter dari mulut lubang.
Dari posisinya, ia menyaksikan secara langsung tanah dan bebatuan dari bagian atas tebing tiba-tiba bergerak, menggelinding, dan kemudian menghujam dengan brutal ke arah lubang tambang. Dalam sekejap, lubang itu lenyap ditutupi material longsor, menyapu bersih harapan dua manusia di dalamnya. Panik, Viali berteriak sekencang-kencangnya ke arah Jun, “Ada longsor di bawah! Tolong!”
Kesaksian Adrianto Mehipe: Konfirmasi Kepanikan Kolektif
Kesaksian serupa disampaikan oleh Adrianto Mehipe, yang akrab disapa Nino (23), warga Kampung Binebas. Ia turut mendengar teriakan minta tolong Viali dan menyaksikan kepanikan yang melanda lokasi tambang. Nino menggambarkan bagaimana semua orang berlarian tanpa arah, berusaha membantu meski nyaris tidak ada yang bisa dilakukan di depan tumpukan tanah yang begitu besar. Upaya penyelamatan seketika dilakukan dengan peralatan seadanya, namun sia-sia.
Refleksi Duka dan Peringatan Keras
Tragedi di Bowone ini kembali mencoret wajah kelam PETI yang terus memakan korban jiwa. Aktivitas tambang liar yang dikelola tanpa standar keselamatan sedikit pun telah berubah menjadi lubang maut. Kisah pilu Jatri Lomboh dan Viktor Luis Pontoh harusnya menjadi peringatan keras tentang urgensi penertiban PETI dan pembukaan lapangan pekerjaan yang lebih aman dan layak bagi masyarakat.







